Apa Yang Kita Cari???



 
Alkisah, suatu hari Buya Hamka bertemu dengan seseorang yang baru saja pulang dari Makkah Arab Saudi. Setelah menyapa dan mengucapkan salam orang itu berkata kepada Buya Hamka,
“Kemarin saya ke Makkah, ternyata di sana ada pelacur, bagaimana itu Buya?” terangnya.
“Bulan lalu saya ke San Fransisco, ternyata di sana tidak ada pelacur!” balas Buya.
“Apa Maksud Buya” tanya orang tersebut keheranan. Ia sepertinya tidak percaya dengan omongan Buya Hamka barusan, masak negeri seperti San Fransisco tidak ada pelacurnya, bisik hatinya.
Lalu Buya Hamka memegang pundaknya sambil berkata,
“kemana pun kita pergi, dimana pun kita berada, diri kita yang sebenarnya tergambar dalam apa yang kita cari. Di San Fransisco tidak ada pelacur kalau tidak dicari. Di Makkah ada pelacur kalau itu yang dicari.” terang Buya Hamka dengan bijaksana. (https://donialsiraj.wordpress.com)

Diri Kita Tergambar Dari Apa Yang Kita Cari...

Cerita Buya Hamka diatas menginspirasiku ketika aku bertanya dalam sebuah majelis hafizh quran di daerah Kota Bambu Utara, Jakarta. Kenapa ada orang yang bisa menemukan hal-hal buruk ketika mereka menggunakan internet, kenapa di facebook segitu banyaknya akun-akun yang mengumbar maksiat dan zina tetapi Allah tidak izinkan kita menjadi temannya, padahal banyak! atau mengapa saat kita membuka youtube untuk satu kata kunci kita di random pada video-video "panas" yang membuat kita penasaran untuk membukanya. 

Proses mencari pada zaman "dunia di ujung jari" saat ini tidak jauh berbeda saat kita mencari sesuatu yang hilang, mencari barang yang sedang dibutuhkan, mencari lokasi suatu tempat, mencari keberadaan seseorang, mencari ilmu, mencari rizki, mencari jodoh, mencari jawaban, dan sebagainya. Random, tak ada atau jarang yang mendapatkan langsung apa yang ia butuhkan saat itu. Alih-alih mencari barang A buat orang yang tidak fokus ketika melihat barang B, ia luangkan waktu sebentar untuk melihat info barang B, gambar, spek dan segal sesuatu tentang barang B. 

Tapi kenapa ada juga orang yang sudah menjalankan shalat dan membaca Al-quran, dalam kesendiriannya saat surfing di dunia maya, ia bisa khilaf melihat atau membaca dan mendengarkan hal-hal yang Allah SWT larang? meski ia tahu bahwa itu dosa! apakah shalat dan quran yang ia baca sehari-hari tak membuatnya menjadi pribadi yang pandai mengamalkan ajaran agamanya (being to do) bukan sebaliknya hanya menjadi orang yang sekedar tahu tapi tidak mengamalkan (being to know). what's wrong?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar