Berjalan menyusuri gang demi gang dr depan rumahku hingga tembus ke persima satu, lalu terus berjalan melewati sekolah PAUD 'Aisyiyah hingga tanjakan Season City, menaiki tangga penyebrangan yg melelahkan menuju shelter busway Jembatan Besi, padatnya penumpang busway yg berdiri adl suatu anugerah jk dpt tempat duduk. Turun di Shelter Kuningan Barat menuju Kuningan Timur adl satu cerita perjuangan lagi, melewati tangga penyebrangan yg lumayan tinggi & panjang. Kadang aku terlewat dr shelter ini saking lelahnya menunggu mendapatkan busway & berdiri sepanjang perjalanan dari Jembatan Besi sampai Kuningan Barat, hingga aku memilih turun di Shelter Pancoran Barat, terpaksa aku harus balik lagi ke Kuningan Barat.

Sebenarnya aku suka naik busway, terutama jika dapat tempat duduk, tp mana betah duduk jk didekatku ada ibu2 paruh baya atau ibu2 hamil, aku hrs mengalah. Aku suka menikmati perjalanan, menyaksikan kesibukan dijalan, menikmati jln Kyai Tapa, S. Parman & Gatot Subroto menuju Jln Rasuna Said, sepanjang jalan ini adl rajanya macet & rajanya banjir... Dan aku hampir lupa dgn cerita itu smw.

Aku hampir lupa dg kemacetan di daerah Rasuna Said jg, jika aku keluar kantor jam 5 sore, maka di shelter busway GOR Soemantri aku baru dpt bus 1 jam kemudian, 2,5 jam pun pernah, saking padatnya, jg krn rasuna said adl kawasan perkantoran di sepanjang jalannya, maka pd jam 5 sore itu smw karyawan yg plg menuju kendaraan, dan macet yg luar biasa terjadi. Kata org sih skrg ini setelah diberlakukan denda 1jt utk mobil & 500rb utk motor busway lumayan lancar, benarkah...? Kelelahan bercampur dg kemacetan, jg pekerjaan yg tdk kenal waktu, meski sdh jam plg, msh saja ada kata "urgent" utk pekerjaan2 diluar jam kantor, resiko memang bekerja di kantor dg perbedaan waktu. DiJakarta jam pulang kantor, di Saudi pada baru mulai kerja,,,Luar Biasa!

Aku hampir lupa dg smw cerita itu, aku tak lagi merasakan teriknya matahari di tengah kemacetan grogol, kini aku melewati jalan Tanah Abang, tembus hingga ke Rasuna Said bersama motor & teman setia dibelakangku...:) Alhamdulillaah, dengan motor waktu & tenagaku lbh efisien, lbh hemat, aku bs motong jalan & menggunakan wktku utk yg lain. Pulang kerja aku pun tdk perlu repot2 menunggu berjam2 di shelter busway, segala puji bagimu Ya Allah...

Sent from BlackBerry® on 3

Aku Hampir Lupa

 
Pukul setengah tiga siang... lima belas menit menuju adzan ashar... dan aku belum solat zuhur...
"Solat yuk nah, minta pertolongan Allah lewat sabar dan solat..." ajak diriku dalam hati.
Tak lama aku merubah posisiku dari tidur di atas lantai menjadi duduk, lantas kutumpuk dua
batal diatas  pahaku sambil bersila, aku pun melanjutkan tidurku... tp tetap saja aku gelisah karena
belum solat zuhur... "siapa yg nyuruh kk nyari solusi?"
statement yg sering ku terima lewat bbm itu membangunkan tidurku...
Alhamdulillah aku bisa solat zuhur, beberapa menit kemudian adzan ashar berkumandang.
Ya Allah, terima kasih aku tidak melalaikan solat zuhurku, karena kutahu,
biasanya aku akan tidur lebih lama lantaran aku tak dapat menyelesaikan masalah, tak dapat
solusi dari hal-hal yang kujadikan masalah...

Hari ini, kenapa Allah beri aku sakit, boleh jadi bentuk tarbiyah Allah juga... bentuk pembinaan
Allah kepadaku... Aku hanya diminta berikhtiar untuk sembuh, perihal nantinya aku sembuh atau
sehat itu kuasa Allah. Meski tenagaku tak cukup banyak, tp aku tetap saja tidak betah melihat sampah
yang menumpuk di pojokan ruangan dapur, aku pun segera memindahkannya ke tong sampah depan.
Aku minta tlg pada Alifia dan Aulia, tp mereka masuk kamar, bahasa halusnya mereka menolak.
Aku kesal, rasanya berurusan dengan kedua anak ini harus dengan dua hal, yang pertama dgn dimarahin
atau dengan transaksi. Tapi apa iya harus spt itu? Aku hanya bayangkan diriku yg menurut kalo
disuruh apa aja sama kakak-kakakku, tp kenapa dua keponakanku ini sekarang malas? Rasanya aku tidak pelit kalo urusan jajan, trus rasanya dirumah tdk ada yg berlaku keras terhadap mereka berdua, tp
kenapa mereka, terutama Alifia begitu keras? beda dengan keponakanku yang lain... Ahh, mungkin karena
mereka sudah melihat kami setiap hari, jadi tidak segan... beda dengan keponakan yg lain. Aku juga bodoh,
mana bisa aku paksakan kedua orang tua Aulia dan Alifia agar dpt mendidik mereka seperti yg aku
pikirkan, toh pendidikan mereka juga terbatas, pergaulan mereka juga terbatas, dan pendapatan mereka juga terbatas... rasanya aku bodoh jika menuntut mereka utk berbuat lebih.

Sejujurnya aku agak kelimpungan menghadapi Alifia, ya... Alifia... sosok Alifia mengingatkanku pd "ihsan" pemeran utama film "taare zameen par" garapan aamir khan, satu produksi film dengan "three idiots"
Hari ini Alifia membuatku kesal, aku memintanya untuk membuang sampah, sampah itu sudah rapi kuikat
agar tdk mudah terurai, awalnya ia menolak, lalu aku memintanya sekali lagi utk membuang sampah itu,
maksudku memintanya agar ia rajin, tp ternyata aku salah paham. Ia memegang sampah itu dengan jiji,
yang membuat aku kesal keranjang sampah ia letakkan diatas bangku plastik kecil, dan kedua tangannya ia peperkan ke tembok... Hadoooh... aku benar-benar kesal dibuatnya. Aku yang biasa bersih jd naik darah, aku langsung pindahkan tempat sampah dan mengambil kain pel yg sudah kubasahi, kubersihkan bangku dan tembok rumah yg td di peper Alifia, aku juga meminta kakakku Lina, utk membereskan sampah yg tak dirapikan Alifia. Anehnya, kenapa Alifia tau bagaimana berekspresi kesal? kesal kepadaku karena memintanya sekedar membuang sampah. Kenapa ia tidak mau? logikaku mengatakan, bukankah itu mudah...? Orang-orang yg tidak kenal Alifia cuma tau satu cara menghadapi Alifia, marah-marah... mungkin juga termasuk aku karena kadang suka sebel juga sama sikapnya. Alifia itu dyselexia, sekolah di SLB adakah membuat keadaannya menjadi lebih baik atau sebaliknya...? Aku punya keterbatasan menghadapi anak ini. Alifia suka menyerangku secara fisik jika aku isengin atau marahin, akupun bingung jdnya... knp anak ini jd spt ini ya...? mau balas gimana, ga dibalas dia mukulin terus...yang anehnya, bukan aneh mungkin ya, tapi seperti itulah anak kecil, setengah jam setelah aku marah sama Alifia atau Aulia, mereka tidak akan melupakannya... dan akan bermain lagi... "bibi nunah dikamar mandi ya...?" tanya Aulia yang ingin masuk kamar mandi, sementara aku mau mengambil wudhu utk solat zuhur yg tinggal lima belas menit lagi. Aku suka mendengar kepolosan Aulia, maafin bibi hari ini ya...
entah apa yang membuatku kesal pada Alifia dan Aulia...

Aku kesal mungkin karena, aku tidak mampu melakukan sesuatu hal yang  besar untuk mereka. Kedua orang tua mereka memang unik, dan bukan salahku... dan aku tidak perlu mencari solusi utk mereka.
Andai aku mampu, aku ingin bawa Alifia ke ahli-ahli terbaik, untuk mengetahui anak ini kenapa, kenapa Alifia seperti ini, berbeda dari yang lain. Aku ingin bawa Alifia ke salah seorang temanku yg istrinya adalah dosen di UNJ Pendidikan Luar Biasa, tp aku terbentur biaya. Anak-anak yang berkebutuhan khusus ini biayanya mahal. Untungnya Alifia tidak autis, ia masih menangkap jika diajak berbicara. Meski pengaturan emosinya itu tidak jelas sekali, orang sedih dia tertawa... org tertawa ia sedih... gajebo. Aku tidak bisa menyalahkan kedua orang tuanya, meski aku pernah cukup kesal dengan bapaknya,,, aku suka terpancing emosi jika Alifia dimarahin bapaknya, seolah-olah aku tidak terima Alifia diperlakukan seperti itu... tp, yaa aku sudah berikhtiar ya Allah... agar anak ini tidak lagi keras... bukan salah Alifia kenapa Allah takdirkan Alifia menjadi seperti ini. Alifia dan Aulia... tetap tumbuh ya... jangan tidur malam-malam... jangan menangis setiap mau mandi sebelum sekolah... jangan main jauh-jauh... sikat gigi ya sebelum tidur... dan orang-orang dewasa sepertiku hanya punya segudang aturan utk kuberikan kepadamu... karena betapa terbatasnya aku utk memberi ruang untukmu tumbuh...

Aku, adakah ini salahku...? bukan... bukan salahku.... juga bukan kewajibanku untuk menjadikan segalanya berubah dan menjadi lebih baik. Alifia harus tetap sekolah meski hanya ibunya yg semangat utk mengantarnya sekolah, lina... nah minta maaf, nah terlalu banyak nuntut sama lina. Padahal perjuangan lina membesarkan kedua anak dgn kebutuhan spt mereka berdua sudah lumayan berat. Sekolah yg jauh di cengkareng, berangkat pagi-pagi, pulang sekolah yang jauh, dsb...dsb...
Maafin nunah yg belum bisa melakukan hal-hal yang berarti utk lina dan keluarga...

Ya, karena tadi aku sempat kesal pada Alifia dan Aulia, aku langsung tertidur dikamar, diatas lantai dengan pintu kamar terbuka dan laptop fatiah yang masih menyala... dan aku berdoa kepada Allah, jangan jadikan aku lemah lantaran aku terbatas dalam berbuat dan memahami orang lain, jangan jadikan aku lemah lantaran keadaan yang telah Engkau tetapkan untuk keluargaku... Aamiin.








Dengan Sabar dan Solat


Lelah sekali, sgt ingin terlelap, tp pergolakan di lambungku spt mengajakku bercakap, "tlg perhatikan kembali kesehatanmu fath!"

Tidak ada yg kebetulan, bhw ba'da maghrib itu tilawahku & jg tilawah saudaraku pipi, bs kelar 1 Juz, aku jg bertemu Pa Muslim & Bu Lia org penting ditempat kerjaku dlm perjalanan wudhu, aku jg bertemu dg Brother Haitham, surprise aja ketemu Haitham krn selama ini komunikasi terbatas di email, telp jg jarang. Aku senang dg respon Haitam yg mengatakan aku cepat dlm merespon email2 beliau...:)
Di moment International Islamic Tour, JCC Hall B itu maagku kambuh!! Waduh, siapa yg sangka? Siapa yg ngira? 2 Tablet Mecosin + 2 Tablet Myloxan sdh ku kunyah, tp lilitannya msh terasa perih.

Ga kebayang saat di event kyk gitu maagku kambuh? Pi, terima kasih utk cup teh manis panasnya yg nikmat & nasi sup kaki sapinya yg lezat... & lirih2 doamu spt asam mefenamat yg biasa kumakan, sungguh menyembuhkan rasa sakit itu. Di moment itu jg, Alhamdulillaah aku bs buka rekening BSM bareng pipi, aku katakan pd pipi, "pi, jgn berantem lg ya, qt buka rekening di KCP BSM yg sama ini!?" Pintaku sambil becanda.  Selepas makan di samping kanan gedun JCC, maagku lumayan berkurang, syukur Alhamdulillaah aku bs mengendarai motor plg.

Di penghujung malam ini, aku sgt ingin menikmati kelelahanku dlm lelap, tp Allah blm izinkan... Meski kedua telingaku sdh kumanjakan dg lantunan nasyid & murottal... Aku sgt ingin tidur ya Allah, tp perutku...tdkkah ia jg ingin beristirahat? Knp msh sj terus mengajakku bercakap, aku...aku...aku... Aku mohon ampun atas dosa yg melalaikan aku dr mengingatMu ya Rabb.

Terima kasih utk es campurnya bu-e, meski manisnya es traktiran itu terasa pahit di tenggorokanku,,,ya, gula mahal skrg. Jg pengalamanku bersamamu dlm perjalanan hari ini bu-e, sgt2 berkesan...:)

Mba Asa, aku ga sengaja koq utk dtg sore2 ke rmh mba asa, tp kalo emg rizki dr Allah gmn lg ya? :D Ayam Pecel + Tahu Tempenya terasa perlu ditahan lama2 di kerongkonganku, krn lezat sekali, aku suka mba.

Tidak ada yg kebetulan, ya... Tdk ada, siapa sangka runutan smw kejadian itu, dan diskusi2ku dgmu ttg pekerjaan itu, ttg karakter tanda-tanganku, dan ttg "ikhlas" thd ketentuan2 Allah memberi kesan tersendiri yg singgah dlm hatiku, aku sadar Allah telah mengirimkanmu pdku utk membangunkan potensi2 diriku yg lain, yg selama ini lama tertidur...terima kasih adikku sayang...:) dan malam ini, aku berterima kasih utk setiap kebaikan yg Kau berikan... dan malam ini aku sgt ingin beristirahat... Bismika Allahumma ahya wa aamuut.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

اللَّهُمَّ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شَافِي إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغاَدِرُ سَقَماً


 "Ya Allah! sembuhkanlah! Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada penyembuh melainkan Engkau dan tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan Engkau. (Sembuhkanlah) Dengan suatu sembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun...

Sabtu pagi itu aku baru saja menyelesaikan dua trip cucian, selepas menjemur dan bersih-bersih aku langsung ngacir ke tempat pipi utk bantu finishing kebutuhan yankes liqoan plus dpra setempat besok, di masjil Assasul Islamiyah aku mendapat waktu zuhur dan lima lembar tilawah, yah wajar sih kalo sabtu itu kesehatanku ngedrop... aku bolak balik ngantar biskut, aqua dan gelas... trus ngantar bue ke jembatan lima, aku tidak tahu sebelumnya jika bue mnt antar ke jembatan lima, aku pikir hanya anter ke krendang, krn krendang deket, lepas dari antar bue aku langsung ke senayan... dan endingnya, esok pagi aku tak mampu berdiri... dan kegiatan yankes pun aku tak mampu hadiri... ketika kegiatan yankes di kelurahan yg berbeda aku coba hadiri, kesehatanku malah semakin nge-drop...
ya...ya...ya... aku harus istirahat total saat ini...


Tidak Ada Yg Kebetulan... --on busy day--

Sakit itu ga enak!
Karena saat sakit aku ga bisa ngapa-ngapain...
Aku harus minum obat yg bikin mual...
Aku juga dibatasi utk makan dan minum...
Aku jd ngerepotin org krn hrs mengantarku berobat,
atau membersihkan muntahku, atau mengantarkan makan minumku...
Aku jd byk keterbatasan...
Dan yang terakhir, sakit itu bikin pengeluaran membengkak...
Budgeting kesehatan warga jepang lebih baik drpd org Amerika, sedangkan budgeting kesehatan utk org Indonesia adl budgeting ke tiga belas setelah pulsa hp aman, dsb...dsb... termasuk aku... :D
Dan hari ini aku pun baru benar-benar menyadari bahwa "kesehatan adalah investasi"

Yang jadi masalah adalah saat sakit itu kita mengkonsumsi obat dengan dosis tinggi, artinya kita mengkonsumsi obat yg "cukup bergizi', sedangkan saat kita sehat, kita makan makanan seadanya,
ada yg jual bakso, ya beli bakso, adanya di rumah telur ya makan telur, tp kalo telur masih bergizi lah ya...
Aku menyimpulkan, obat yg kita konsumsi lebih bergizi daripada makanan kita sehari-hari...
ironis memang... itu pun masih sukur bisa makan, kadang kita suka menyepelekan makan...
menunda-nunda makan karena "nanggung" dengan kesibukan, atau malas utk keluar cari makan jika
memang di rumah atau di tempat kerja kita jauh dari akses makanan.

Tiga bulan kemarin sebelum bulan desember, dengan percaya dirinya aku mengatakan "aku sehat dan rasanya aku sudah tidak pernah sakit lagi" tapi kenapa desember ini aku jatuh sakit?
"Kalo maag ga sembuh larinya ke thypus, kalo thypus ga ada perubahan larinya ke liver" kata alil.
Innalillahi, ngeri kali... "makan yg lunak-lunak dulu, kurangin deh kerja yg berat-berat" kata abangku syahril.

Maag kali ini sedikit berbeda dari maag yg kemarin...
meski aku sendiri masih menyangkal bahwa "aku tidak punya riwayat maag",
sebagai bentuk penolakanku bahwa aku sulit menerima realita bahwa aku sakit.
Kalo ga terpaksa, aku ga mau ke dokter sebenarnya...
Tapi maag kali ini memang sedikit berbeda...
Pulang berobat dr RSUD Tarakan, aku panas-panasan ke kantor, aku pikir aku bisa sedikit rileks di kantor... selama di kantor aku sudah tiga kali diare, badanku tiba-tiba jadi panas/demam dan pusing...
dan aku benar-benar butuh istirahat.
Motor kutinggal di kantor, "tolong liat-liat ya reen" pintaku via bbm pd teman sekantorku...
Aku pulang naik taksi bareng pipi.
Terima kasih sdh meng-guide ku utk buat oralit dan meminum panadol pd pipi, shg aku punya sedikit
daya utk sekedar berjalan pulang kerumah malam itu...
Kepala pusing berat malam itu dan aku memilih utk duduk saja di lobby epiwalk, sambil memperhatikan
orang-orang mem-pick-up naik turun kendaraan di depanku...
Aku mengisi waktuku dengan membaca koran kompas "karier" yang kubeli sabtu kemarin,
sambil aku mencari pekerjaan baru yg lbh settle.

Maagku kali pertama, tak ada makanan yg dapat kumakan... sepulang berobat dituntun upi ke klinik,
aku masih ingat, tablet selaput sudah kukunyah, disusul kemudian aku mencoba memakan makanan,
aku tidak ingat makan apa wkt itu, yg jelas...semuanya aku muntahkan dikamar... untung aja ga kena kasur...
dan fatiah yg membereskan muntahku yg berwarna kuning... bercampur dengan warna obat selaput yg
sudah kukunyah yg jg berwarna kuning...
 
Selepas pipi menyarankan aku utk tidak meminum kopi atau teh, maagku sdh jarang kambuh...
dan benar-benar tidak pernah kambuh...
tp aku jenuh dg pekerjaan di kantor, suntuk... dan kopi mmg membuatku sedikit rileks...
dan maagku mulai kambuh lagi...
Tapi apa iya kesehatanku ngedrop lantaran aku tidak tahan dgn angin malam...?
Atau karena akhir-akhir ini aku sering tidur malam...
dan aku sudah kesulitan untuk bangun jam tiga malam...
sudah sulit aku mendengar lanturan adzan subuh yg merdu, kresek-kresek mix yg dibunyikan
garin masjid dekat rumahku...
atau makananku sudah mulai kurang sehat...?
Astaghfirullah... banyak sekali PR-ku...
khwatirnya aku jdi menyalahkan org lain atas sakit ku ini...

Allahummasyifaan ajilan...
Terima kasih atas saudara-saudaraku yg sdh menemaniku, menjagaku, mengingatkanku, merawatku selama aku sakit...
Semoga Allah menjaga kesehatan kalian semua sampai akhir hayat...

Aamiin...
Menikmati waktu istirahat total dirumah...




nyatanya kesehatanku malah nge-drop.



Ala-maag...! Kenapa Jadi Resmi Sakit Begini...??


Maksudnya bukan obat utk mual, tapi obat-obat itu benar-benar sudah bikin aku mual.
Aku sudah benar-benar jenuh dengan obat-obat itu, tapi kenapa sakit kali ini baru merasa klimaksnya
bahwa aku benar-benar mual dengan obat? kemarin kemana aja?

Asam mefenamat sudah akrab sejak aku SMA, amoxycilin antibiotik pertama yg kukenal, selanjutnya aku
mulai akrab dengan obat-obat dari dokter THT-ku, mulai dari Rhinofed, methylprednisolone, dsb. Sampai-sampai aku hafal nama-nama obat itu. Aku ingat saat Astri teman SMA-ku mau meminjam pulpen dariku,
ia kupersilahkan utk mengambil langsung dari dalam tempat pensilku, endingnya ia akan komen "ini tempat pensil apa tempat obat?"

Hadoooooh, aku bosan dengan obat-obat itu...
efek sampingnya itu loh... mengurangi daya tahan tubuhku....
Kenapa juga dokter-dokter itu memaksakan diri menuliskan resep,
sementara menuliskan resep adalah bidangnya apoteker?
Apalagi prinsip obat menurut teman satu kostku yg anak farmasi mengatakan,
"obat A menimbulkan efek samping X, maka diberi obat B, obat B menimbulkan efek samping Y,
maka diberi obat C, obat C menimbulkan efek samping Z, maka diberi obat D, dst.
Sediaan kalo kata anak farmasi, bahasa lain dari obat, siapa yg tahan dengan efek sampingnya?
Aku akan membuang obat-obat itu jika sdh tidak diperlukan,
apalagi obat-obat warung, aku jarang minum itu.
Dan apapun itu, vitamin ataupun supplement yg bentuknya spt sediaan sintesis,
aku sudah antipati untuk memakannya, sdh mual.

Kenapa harus obat kimia?
Aku ingat dengan cerita dosenku, org barat kalo mau mencari kelinci percobaannya
utk mengetes kualitas obatnya itu, mereka akan coba disini, dengan org Indonesia,
nama obatnya Aspirin. Saat itu byk efek samping yg ditimbulkan dari Aspirin obat yg mrk
ciptakan, byk org Indonesia yg keracunan, jadinya mereka ga mengkonsumsi obat tsb dinegaranya.
Kalo anak farmasi biasa mencobakan obatnya sama tikus putih, kalo org barat mencobakan obatnya
ke orang Indonesia, huuuhuuuhuu.... menyedihkan sekali.

Kali ini aku benar-benar mual dengan obat itu.
Dan kali ini aku benar-benar ingin lepas dari obat-obat itu.
Setelah ini aku harus selalu sehat dan menjaga kesehatan! serius dah...!



Obat Mual


Mendengar kata2 itu kedua mataku terasa berat & hangat... Kedua tanganku-pun siap segera mengeringkannya... Kata2 itu, spt mendesak hatiku utk tertunduk, menangis & membersihkan ruang hatiku yg kumuh... Ya, setiap org punya potensi utk berubah, jika bukan hari ini, maka besok... Jika bukan besok, mgkn saja bulan depan/tahun depan, atau jika bkn mereka, mungkin saja anak2nya... Dan setiap individu punya potensi utk berubah, Jgn menjudge org. Jgn meng-underestimate org, karna blh jd qt tdk lbh mulia di hadapan Allah drpd org itu.

Majelis Jejak Nabi, Masjid Raya Pondok Indah, aku meluncur sepulang kerja bersama pipi, Alhamdulillaah perjalanan kami lancar, sebelum Isya kami sdh tiba di lokasi. Sambil menunggu di Ruang Pendidikan, samping Bank Muamalat, kami menunggu kedatangan Ust. Salim A. Fillah, beliau baru sampai di tempat jam 18.40, 4 jam beliau didalam taksi, kejebak macet rupanya. Sama kejadiannya wkt aku berangkat kerja td pagi, si pipi aja sampe tanya, "td pagi itu macet kenapa ya kak?" Lanjut dr gedung Axa, aku melanjutkan perjalanan ke tempat kerjaku, tdk dg jalan biasa, muter sedikit lbh jauh, krn bagian badan jalan kantorku menuju tempat parkir penuh dg tenda2 event & tepat di depan kantor kedubes Aussie, full body bgt sama polisi, jd tambah macet aje dah... :) Lagian jg si Tony Abott pake iseng nyadap2 sih... Coba kalo PM Aussie itu muslim, jangankan nyadap, ngegunjing keburukan org aja ga boleh, apalagi nyadap???

Kalimat itu pernah diucapkan Rasulullah pd Abu Bakar, ketika Rasulku diperlakukan buruk oleh org kafir quraisy, aku lupa apa kejadiannya, saat Rasul dilemparkan kotorankah atau saat yg lain, yg jelas saat itu Abu Bakar ingin membalas, tp Rasul melarangnya, lalu Rasulullah mengatakan kata2 indah itu, "jika bkn ia, mgkn anak2nya yg akan mjd pembela agama ini."

Kalau Bukan Mereka Mungkin Keturunannya Nanti


Senin 18 November 2013


وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

"Dan manusia bersifat tergesa-gesa." [al-Isrâ’/17:11]

Sambil memforward sms blast,aku menunggu bronze/stand hagatama di acara musyawarah kerja Himpuh di Mason Pine Hotel, Bandung. Alhamdulillaah aku teringat utk mengirim sms blast ketika tak sengaja aku membuka email, kesibukan 2-3 hariku membuat aktivitasku overlap, sampai2 bisa tidur ba'da shubuh sampai jam 8 pg aja luar biasa. Semalaman aku tidak tidur, perjalanan jakarta-bandung tak memberi space wkt utk tidur malam, krn harus prepare bahan2 utk dibagikan saat event.

Sabtu pagi kmrn "aku tdk dpt bangun", perasaan bersalah, perasaan kesal & perasaan sungkan bercampur. Bersalah krn sdh membuat saudaraku menungguku hingga 3 jam lebih, kesal krn bosku menambah wkt meeting hingga larut malam dan bersalah krn kelelahanku membuatku tak dapat menjemput teman kuliahku dulu di bandara.

Sabtu itu benar2 tdk ada yg mampu aku kerjakan, sehingga aku tidur seharian. Bunyi dering telp berkali2 dr temanku riri yg baru saja plg dari bandara membangunkan tidurku,,, jam 3 sore, ahh...aku selalu lemah menghadapi hal ini. Aku selalu tdk mampu menjelaskan kpd org lain ttg alasan aku membuat org menunggu, kecewa dg sikapku atau ketidakmampuanku menolak sesuatu.

Sabar itu menunggu...
Sebenarnya, siapa yg lambat & siapa yg terburu2, sehingga harus ada kata sabar...?
Sebenarnya, siapa yg menghalangi & siapa yg terhalangi, sehingga harus ada nasihat kesabaran...?

Seperti ketika aku sedang mengendarai motor, didepanku ada mobil box yg sedang ingin berputar,
sehingga mengambil hampir seluruh badan jalan, dgn aba2 tangan sang kernet meminta kendaraan di
depannya utk menunggu...? Aku, bisakah aku menunggu...? "sabar bu....!" kata sang kernet mobil,
memintaku agar mau menunggu, tp malahan yg kulakukan sebaliknya, aku minggir ke kanan & jalan dibagian belakang mobil yg sedang parkir, jadilah aku tetap berjalan ketika yg lain menunggu.

Menunggu & Ditunggu, 2 kata itu sudah aku proklamirkan sejak awal kuliah ketika teman2ku
menanyakan hal2 apa sj yg aku sukai & tidak aku sukai, ya itu, aku tidak suka menunggu & ditunggu,
sedangkan hal2 yg aku sukai ada begitu banyak varian & derivat2nya.

Siapa yg suka menunggu...? siapa yg bisa menunggu...?
Sabar itu menunggu... bukan pasrah...

اتق الله، واصبر ولا تستعجل
"Bertakwalah kepada Allah, sabarlah dan jangan engkau terburu - buru".

Lawan kata sabar adalah terburu2, sedangkan terburu2 berbeda dgn menyegerakan...
Tidak cocok belajar kesabaran dgnku sebenarnya, karena aku tipe org yg terburu2.
Kebiasaan multitasking ku sebenarnya adl pertanda betapa tidak baiknya aku mengelola diri & waktu.
Jarak antara aku menginginkan sesuatu dengan eksekusi itu paling2 cuma 15 menit, lebih dari itu aku bisa
demam...:) *lebay dah... atau istilah sepupuku dulu, spt kodok, kapan inget langsung loncat
(bilo takana, lumpek - minang).


إن فيك لخصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة
"Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa."(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Bagaimana perhitungannya utk bersabar? Adakah org2 yg bersabar itu tidak memiliki perhitungan?
atau jauh lebih baik perhitungannya? bagaimanakah kesudahan ddr org2 yg tergesa2...? fine-kah...?
Dan apakah menunggu itu selalu "wasting time...?"




Sabari Itu Menunggu...


Secara tak sengaja aku men-scrolling kebawah akun twitter blackberryku, aku tertarik dgn status yg sdg kubaca, aku lupa apakah status itu aku retweet apa tidak, tp yg jelas bunyinya, "semengeluh2nya isi keluhan org2 beriman itu isinya adalah doa." Ya, isi keluhannya adalah doa, bukan menyalahkan takdir atau menyesali yg sudah ada atau sudah terjadi.

Tuhan mmg tidak punya akun di twitter, di facebook, di blogspot, atau media sosial yang lain. Seperti status twitter salah seorang temanku jg, kenapa sih berdoa di media sosial? emang tuhan baca apa? emang tuhan update status? emang bakal di komen tuhan? Hadoooh... lucu sekali status temanku itu.

Tp tuhanku, izinkan aku mengeluh... sekali ini saja...
Bukankah mmg Kau ciptakan kami bersifat keluh kesah...?
Lantas kenapa kami tak boleh berkeluh kesah...?

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir".  (QS. Al- Ma'arij: 19-21)

Ada yg bilang "wall" pada dinding / timeline facebook itu terinspirasi dari
tembok ratapannya kaum2 yahudi di tanah rampasan Palestina itu, lantaran
tempat ibadah mereka, ya di tembok ratapan itu... dan kebetulan juga si Marjuki
(Mark Zuckerberg) berdarah yahood! jd ya menurutku, nyambung2 aja.
Lain hal jika kita bisa berbuat sebaliknya di akun2 media sosial itu,
misalnya menceritakan nikmat2 yg Allah beri, atau berbagi nasihat & peringatan.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Dhuha : 11)

Tp tuhanku, tidak bolehkan aku mengeluh...?
Aku mengeluh kepadamu, mengemis kasih kepadamu, adakah Engkau tahu...?
Aku pernah mengeluh pd manusia & aku menjadi lemah... bukan sebaliknya...

Adakah jika aku mengeluh pertanda bahwa jika aku tidak bersyukur...?
Ya,,, memang setiap keadaan itu selalu memberikan nilai2 kebaikan,
jika diberi musibah maka kita diminta bersabar... dan itu baik...
jika diberi berkah/kebaikan maka kita diajarkan bersyukur... dan itu baik.

Tp tuhanku, bolehkan aku mengeluh...?
Bukan lantaran agar orang lain mengetahui kesedihanku,
bukan juga lantaran agar orang lain memperhatikanku...
juga bukan lantaran agar org tahu dgn keadaan sulitku...
bukan...

Aku hanya ingin mengeluh saja...
Agar hatiku lapang...
Agar konsentrasi "asin" dalam gelas hatiku bisa kubagi pada asinnya lautan.
Tp apakah lautan itu akan mjd tercemar dgn asinnya gelas haitku, gelas pikiranku...?

Aku ingin mengeluh ya Allah,
Lantaran betapa terbatasnya kemampuanku...
Betapa terbatasnya aku dalam menyelesaikan masalah2ku...
Lantaran betapa terbatasnya pikiran, pengetahuan & pengalamanku...

Aku ingin mengeluh ya Allah,
Lantaran betapa butuhnya aku utk tergantung kepadaMu...
Lantaran aku butuh tempat bergantung...
Betapa tidak enaknya jika harapanku kepadaMu bergentayangan pd manusia yg lemah...
Hanya ingin mengeluh kepadaMu... bukan yg lain...
Ya, selemah2nya keluhan org2 yg beriman dalah berdoa...
Bukan menyahkan apa2 yg sdh Engkau tetapkan...
Tp sebaliknya... meski utk semua itu... butuh proses yg lumayan panjang...
Ajaari kami menikmati keindahan bertawakkal kepadaMu ya Allah...
Dan disini, ketika aku ingin mengeluh... aku meminta izin kepadaMu...

*sinus ini sudah sembuh kan...?
When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path...

Izinkan Aku Mengeluh...


Sesuatu yang dituliskan dengan ikhlas, maka itulah yang abadi...

Overlap atau tumpang tindih.
Kata overlap mulai akrab di telingaku sewaktu nguli,
tumpang tindih elektron, spesial pada ikatan kimia kovalen,
karena disana ada penggunaan elektron secara bersamaan.

Tumpang & tindih, bayangannya kayak apa ya?
udah numpang trus nindih lagi, artinya ada sesuatu yg dipaksakan.

Kalo elektron2 pada unsur2 bukan logam pada overlap sih wajar,
artinya masing2 unsur saling membutuhkan, misalnya senyawa CH4,
karbon perlu, trus si hidrogen juga perlu, keduanya mengikat
agar stabil.

Apakah overlap identik dengan penggunaan sebuah benda atau materi
secara bersamaan? secara bersamaan dalam artian antara satu
dengan yang lain tidak bisa memiliki sendiri, kemana2 pun harus bareng.
Aku suka pake kata overlap kalo lagi rapat, "overlap nih...!"
Overlap dikepalaku maksudnya, karena disini akan overlap jobdesc,
tenaga & waktu. Dan yang kumaksud overlap di kepalaku juga bukan
sharing materi... :) tp koq bisa bikin pusing ya?

Saat2 overlap itu aku sulit mengambil keputusan,
walau masalah sebenarnya aku belum mampu menyusun mana yg prioritas.
Antara janji satu dengan janji yg lain, antara tawaran satu dengan
tawaran yg lain, antara kewajiban satu dengan pekerjaan yang lain,
antara permintaan satu dengan permintaan yg lain.
Ditambah lagi aku sungkan utk berkata "tidak."
Dan aku benar2 butuh masukan dari orang lain saat itu.

Saat aku ditawari ikut seminar utk perkenalan produk kosmetik
yang ujung2nya aku harus menawarkan produk, kok aku berat banget ya?
Saat aku sudah ada janji sebelumnya utk pergi ke Tanah Abang, teman kuliahku
tiba2 sms pagi minta aku jemput di bandara, ya semuanya overlap, dan kondisi2 itu
bukan kondisi yang mudah buatku mengambil keputusan.
Tolong bimbing aku ya Allah...

Overlap


So noisy here...
Refreshing kebawah aku mencari eskrim ke farmer lantai bawah.
Pusing dengerin org2 yg lagi training disamping.
Ini bukan kali pertama, tapi entah kali berapa.
Ruangan training sepertinya lebih cocok diruangan yg kedap suara,
karena mendengarkan materi2 training yg not my major koq bikin pusing ya?
Tadi mampiir sebentar ke XXI buat refreshing, tp film-nya
ga ada yg recomended, THOR sama Las Vegas... ga dah!
Aku mengerutkan kening atau sekedar mengucek2 kedua mataku.
antara pusing & tidak, antara jenuh & tidak,
kenapa konsentrasiku mudah terganggu saat ruangan rame ya?
Kemarin saja teman kerjaku mengeluh macam2 aku langsung pusing.
Bagaimana aku bisa menerima kondisi ini ya...?
Agar aku bisa meminimalkan gangguan atau setidaknya ku tidak mudah terganggu?

Selama seminggu ini aku suka tidur lagi setelah salat subuh.
Bangun2 yah kejar2an sama waktu agar ga telat masuk kerja.
Ya, solusinya dengerin nasyid, full music, volume maksimal.
Akhirnya aku pinjem headset Renny temanku, lumayanlah,
suara trainernya dah lumayan berkurang terdengar di telingaku.
Pusing dengerin materi2 yg bukan bidangku,
bukan juga bidang yang aku interest.

Aku nyeletuk tadi sama temenku,
"untung aku orang sains, enak soalnya belajarnya,
dengerin cerita2 dosennya juga enak, jd enjoy aja."

Sudah... sudah... sudah...
sudah lumayan...
aku mulai bisa berpikir lagi sekarang...
Alhamdulillah...

Refreshing...


Di suatu kesempatan, aku bertanya pada seorang yg kapasitasnya
sebagai guru-ku cukup kuhormati, aku bertanya pada beliau,
"kenapa perkembangan si-A (salah seorang temanku) itu lamban?"
sedangkan perkembangan yang lain kulihat ada kemajuan...?
Singkat cerita, ada seorang temanku A yg kalo dgn pendekatan
fisiologis ga bakal keliatan kalo perkembangan nih anak lamban,
tp coba deh secara psikologis, dari cara beliau berbicara, cara
beliau menjelaskan sesuatu, cara beliau bersikap akan mudah
bagi kita utk menerka, tp wallahua'lam juga sih.
Guruku bilang, beliau itu "ndablek" atau komen dari temanku
juga teman guruku yg lain, beliau itu "oneng!." Ya, statemen2
itu memang tidak semestinya keluar dari lisan2 mrk,
seseorang yg kukenal karena kesabarannya pun bisa jenuh juga,
lantaran sudah hampir 5 thn perkembangan temanku ini lamban.

Bagaimana denganku, secara fisiologis & psikologis, mungkin aku
tidak lamban, malahan aku sering terburu2 (isti'jal).
Aku sering diledekin dirumah dengan kakak2ku, jika aku ingin sesuatu
atau mau melakukan sesuatu, kakakku suka ngeledek "hayuuu...!,
sekarang yuuu...??!" ya, jarak antara apa yg aku ucapkan dengan apa
yg akan kerjakan biasanya tidak begitu jauh. Karena aku pun tidak suka
dengan org yg om-do (omong doang) or NATO (no action talk only).

Pada temanku yg perkembangannya lamban itupun aku pernah katakan
langsung pada beliau, "aku geregetan...!"
Geregetan kenapa? Karena dalam kondisi beliau yg masih labil pun,
beliau ingin mengubah hidup orang lain, ingin menolong orang lain,
ingin mengajarkan org lain...? bisa-kah? bisa pastinya... jgn pesimis
dan jangan meng-underestimate org lain. Saranku waktu itu padanya
adalah, pastikan jika ingin menyapu kotoran diruangan, kita menggunakan
sapu yang bersih, atau pastikan kita menggunakan kain pel yang bersih jg.
Karena jika kita ingin membersihkan tempat dgn sapu yg kotor, yg ada
ruangan mjd semakin kotor. Btw, impossible is nothing, bisa koq temanku
itu berubah & dalam waktu yang bersamaan beliau juga merubah org lain,
why not? asalkan punya & mengerti tahapan2nya... & mengikuti prosedurnya...

Disini, energi kesabaran sangat perlu2 di recharge/di reload.
Bukan soal temanku, atau guruku, tp soal aku, betapa kesabaran itu
adalah stock energi terbaik. Orang2 yg mampu bersabar itu performa-nye tenang,
meski jiwanya bergemuruh kuat utk merubah banyak hal. Karena menyelesaikan
problematika hidup tdk harus semuanya dgn emosi. Emosi akan menyerap
energi yg banyak setiap kali diaktifkan, jika tak punya energi, maka
sel2 hidup dalam diri kita akan terganggu, fatalnya jika terputus.
Na'udzubillah...

Emosi itu seperti air ombak, energinya yang kuat biasanya hanya utk
menghantam karang, membuyarkan bebatuan di pinggir pantai, mengombang-ambingkan
kapal2 yang berlayar diatasnya. Tapi jadilah seperti air laut yang tenang,
air laut di pertengahannya yang dalam, di kedalaman laut itu byk kelimpahan
makhluk hidup, banyak hal yang berharga. Bukan seperti ombak laut yang
hanya berada di tepian pantai. Mereka2 yang memiliki kedalaman ilmu, kedalaman
pengalaman, dan kedalaman jiwa itu tenang, karena ingin agar org lain mengambil
ilmu & manfaat darinya dengan utuh. Sedangkan di bagian atas permukaan laut,
kita kenal dengan tegangan permukaan... dlm ilmu fisika, sebuah jarum-pun
bisa diletakkan di atas permukaan air yg tenang, saking tenangnya...:)

Geregetan...

Customize
>> Modify (something) to suit a particular individual or task.
>> Pengaturan ulang yang dilakukan oleh pengguna pada software yang bersangkutan.

Sesaat setalah memilih menu "setup" program2 yg baru siap di instal, selanjutnya pc akan meng-customise diri... Sang program akan meminta izin agar diperbolehkan mengaplikasikan dirinya pd pc tsb.

Pagi td aku dpt ilmu baru sepulang halaqoh, malam ini aku ingin menginstal program2 kebaikan itu ke dalam diriku, insyaAllah space utk menyerap ilmu2 kebaikan yg baruku msh byk. Tp kenapa justru aku jd error begini? Ya, mmg aku bkn mesin spt pc, faktor2 & kondisi psikologis perlu dipertimbangkan jk ingin menginstal progran yg baru.

Aku ingin instal beberapa program baru ke dalam diriku, mulai dari bangun subuh, salat tepat waktu, salat dhuha, baca alma'tsurat pagi, baca alma'tsurat sore, masuk kerja setiap hari (office hour only), masuk kerja tepat waktu, bersedekah, tilawah qur'an setiap hari (saat suci only), membaca buku, dsb. Dari semua program2 kebaikan yg ingin aku instal tadi sederhananya ada 10 program, ada 10 software kebaikan yg mau aku instal. Dan... dan setiap kali aku memulainya, esok harinya aku akan memulai dari nol lagi, maksudnya aku gagal di kali pertama, tidak mudah memang.

Sebuah pc saja, jika ingin di instal satu program baru, maka sang software akan meminta izin kepada pc utk meng-customize diri (menyesuaikan diri), karena pasti program yang satu dengan yang lainnya akan saling bertumbukan, akan saling mengganggu program yang lain, kadang komputer bisa jadi "heng" atau error dengan adanya program yang baru, atau ternyata memory komputernya sudah tinggal sedikit, atau malah kecepatan komputernya ga secepat software yang mau kita instal. Ga mungkin dong windows98 di instal program coreldraw X6...? mungkin ga sih...?

So do I, diri ini kadang tidak pernah di sapa lebih dulu jika ingin menginstal program2 baru, main mulai aja, sebaiknya memang izin, izin kepada diri ini juga kepada pemilik hati ini, karena kita punya hati yang nge-link dengan satu provider, provider yang Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan hal2 yang belum terjadi sekalipun.


Bismillah... aku mau izin deh kalo gitu... biar kebaikan2 itu bisa bersinergi dengan kebiasaan2ku yg kurang baik selama ini... aamiin....


Customize...


Memotong ma'tsurat y tengah kubaca, aku bertawakkal kpdMu ttg rizki-ku ya Allah, ttg jodohku yg blm kunjung dtgjua. Visualisasi se2org yg dtg mengkhitbahku pagi ini sdh kulakukan, betapa aku menargetkan agar tahun ini aku dpt menggenapkan setengah dien-ku... Ajari aku ttg keindahan bertawakkal kpdMu ya Allah...

6.47 pagi, aku duduk di depan warung mkn tegal, menunggu pi2 utk sama2 brgkat kerja ke kuningan, 3 menit berlalu & pi2 blm jg keluar. Ba'da subuh ini aku tdk tidur lg, krn jk aku tidur lagi lumayan repot akibatnya, meski aku berusaha sekali agar dpt berangkat kerja. Terima kasih pd pa Muslim yg tlh mengapresiasi kerjaku, bhw aku sdgh menunjukkan mjd yg terbaik diantara yg lain. 7.26 sampai di parkiran B3. Sampe di kantor 5 menit kemudian, 7.31...perjalanan dr tempat parkir ke lantai 5 sekitar 5 menitan.

Rasanya, menyelesaikan masalah sendiri itu selalu spt ini. Ya, dlm 2 bln ini, sejak aku dtg pagi ke kantor, aku sehat ya Allah... Aku selalu sehat & sudah jarang sakit! الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين ... Yg jd pertanyaan besar skrg adl, betapa kerasnya aku memikirkan org lain? Betapa bodohnya aku mencemaskan org lain? Betapa dzalimnya aku thd diriku sendiri? Robbanadzolamna... aku kenapa sih? jangan dijawab sekarang deh, karna traffic kepala sdg crowded, gegara keputusan & info yg kuambil kemarin...

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".  
(Albaqoroh : 286)

Robbanadzolamna...


Tuhanku yg penyayang,
aku hanya ingin memastikan bhw ibuku akan mendapatkan syurga, tdk perlu dibalas cepat2 doaku ini ya Allah,
yg penting dpt.
Tlg ampuni kedua org tuaku,
lantaran mereka penuh keterbatasan dlm mendidik & membesarkan kami.
Terima kasih telah melahirkan aku,
meski terbatas sekali aku mengenalmu, terbatas sekali aku dpt bersamamu.
Dari cerita2 mereka, aku mencoba mengenal sosokmu.
Aku disini tumbuh dgn baik bu,
meski tanpamu hari2ku terasa berat.
Aku lelah sekali, dan aku malu menambah bebanmu dg kelelahanku ini,
meski pd Tuhanku, acapkali aku katakan "Aku lelah ya Allah, aku lelah...!
Aku rindu... Teramat rindu... Rindu utk bersamamu & bersama-Nya...."

...Kini ibu genggamlah tanganku ini...biar kubawa ibu menjelajah hasil titih peluhmu...


Sajak Malam

Pada Mu (Tuhan) ku rangkai Asa.
Pada Mu ku titipkan Rasa
Impian,khayalan ku percayakan
Ini bukan kiasan
Hanya lbh thdp kepercayaan
Seseorang d sana telah mengadu pada Mu,
Bukan
Tuhan bukan tdk brphak
Namun
Ia hanya ingin kau sdkt menunggu
Kata sabar n lapang ingin d sematkan pd mu.
Perlahan dn dlm diam
Diri ini memang tak bisa
Dan tak akn pnah bs ada dalam dimensi.ruang yg sama
Namun dri kita,itu bkn penghalang
Untk slg menjaga agar
 kata SEANDAINYA bergeser
Menjadi BISA!

*to my sister; be strong! U.u




Kenapa aku mjd begitu cemas? Aku mjd begitu takut, adakah kecemasan itu dari-Mu? Atau hanya perasaan was2 yg dibisikkan makhluk angkuhmu? Aku berlindung kepada Mu ya Rabb dr kejahatan makhlukMu.

Kenapa aku hrs merasa cemas, padahal begitu rindunya hamba kepadaMu, kpd RasulMu & kpd mereka2 yg tlh berbahagia berada di sisiMu. Aku masih pny berjuta asa utk mjd hamba terbaikMu, berjuta benih kebaikan yg ingin aku semai, berjuta cinta & karunia yg ingin aku bagi. Beri aku kesempatan Yaa Rabb... Beri aku kesempatan...

Aku mengetuk pintu 'arasyMu yg agung, izinkan aku mjd istri bagi seorg laki2 shalih yg Kau cintai, izinkan aku melahirkan & membesarkan generasi2 terbaik yg mencintaiMu & AgamaMu. Izinkan aku membangun mahligai rumah tangga yg kuat & diberkahi, sekuat ikatannya & seberkah perjalanannya.

Adakah Kau ampuni dosa2ku yg menggunung? karna rasanya lamaaa sekali aku bermaksiat kepadaMu. Baru sebentar aku bertaubat & aku blm cukup bekal utk lekas kembali. Amal2 shalihku yg rapuh enggan menemani kesendirianku kelak. Bantu aku utk taat kpdMu, utk dekat kpdMu & utk mendpt ampunanMu... Ya ghoffuurrohiim...


Di penghujung senja, aku menyapa...
Menyapa...

...Kini ibu genggamlah tanganku ini...

Selamat Hari Lahir Fathiah & Fauziah


Kebayang bambu yg runcing lbh mudah ditancapkan drpd bambu yg tumpul. Pensil yg runcing lbh enak dipakai drpd pensil yg tumpul.

Runcing identik dg fokus,spt paku atau mur, benda yg runcing itu lbh fokus.

Lantas, apa yg hrs aku runcingkan dlm diriku atau dlm hidupku agar lbh fokus, tepat sasaran, kuat seperti paku yg menempel, dsb? Pikiranku? Cita2ku? Keimananku? Atau? Adakah pikiranku selama ini tumpul? Adakah ibadahku selama ini tumpul?

Runcing


Alhamdulillaah...({})
Di perempatan lampu merah, tepatnya diantara jalan arah ke pejompongan, tanah abang & kuningan, aku memandangi terangnya ketinggian lampu pemakaman karet bivak. Sambil menunggu lampu merah berganti hijau, aku bayankan org2 yg tdk punya rumah di jakarta ini, tepatnya tdk punya tempat berlindung.

Aku sgt bersyukur aku punya rumah yg nyaman & keluarga yg hangat, kasur yg empuk & kamar tidur yg cukup membuatku relaks.

Seperti apa kehidupan mereka yg tinggal di rmh2 kardus? Di kolong jembatan/fly over? Di pinggiran rel yg sewaktu2 bs dibongkar? Di belantaran kali atau di tanggul2?

Ya, ini jakarta... Sepetak tanah bkn hal yg mdh utk dimiliki. Terlebih utk mereka yg tingkat ekonominya krg sejahtera, bisa menyewa bulanan kamar kost sj sdh luar biasa, apalg bs mengontrak tahunan, entah dr mana membayar uang sewa kamar kost tsb...?

"Deskripsikan rasa cukup, agar datang rasa syukur" (Jaya Setiabudi)

Home sweet home...

Generasi Terbaik dalam Al-Qur'an

Persiapan Menjadi Seorang Istri

Merendahlah

Titik Jenuh

Perubahan